Cerita Sex Pengalaman Sex dengan Ibu Tiri

gemar qq

Cerita seks buat birahi seks meningkat 2x lipat

Untuk website ceritasex.website akan segera diupload untuk mendapatkan perhatian dari netizen yang mencari cerita ngentot, cerita dewasa, cerita 17, konten dewasa. untuk mendapatkan konten yang pasti nya membuat kamu puas akan kelora seks, boleh bantu untuk di shared ke teman-teman anda untuk memajukan website kita. Baik tanpa panjang lebar lagi langsung saja baca cerita seks nya di bawah ini ya.

cerita seks

Cerita Sex – Dari lahir aku dinamakan Anto, lahir di kota medan 25 tahun yang lalu. Aku menyelesiakan kuliah di fakultras kedokteran 3,5 tahun yang lalu, dilanjutkan dengan praktek asisten dokter selama setahun dan kemudian mengikuti ujian profesi dokter. Kini aku sudah resmi menyandang gelar dokter di depan namaku dan sebagai tahap terakhir, aku kini sedang mengikuti praktek di puskemas di daerah terpencil sebagai bentuk pengabdian sebelum mendapatkan izin praktek umum.
Aku dibesarkan di kota kelahiranku sampai SMU dan kemudian menjutkan kuliah di Jogja. Keluargaku sebenarnya bukan keluarga broken home, namun karena Papahku yang berpoligami jadi aku agak jarang berinteraksi dengan Papahku, lebih banyak dengan ibuku dan 2 orang dedekku.
Seperti kebanyakan orang sukses di kotaku, Papah adalah seorang pengusaha warung makan yang lebih dikenal dengan sebutan Warteg. Sejak aku SMP, Papahku sudah punya 2 warteg di kota asalku, 4 di Jakarta dan 2 gerai di Jogja. Berbekal kesuksesan itulah Papah yang dulu hanya beristrikan ibuku, mulai buka cabang di Jakarta dan Jogja. Alasannya sederhana: butuh tempat singgah waktu memantau jalannya usaha. Pada awalnya, aku sebagai anak sulung, menjadi anaknya yang menentang poligami Papah. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SMU dan Papah pertama kalinya berpoligami dengan menikahi seorang gadis yang usianya hanya terpaut 10 tahun dariku. Namun justru ibuku yang mendamaikan perselisihanku dengan Papah dengan alasan klasik yaitu Papah sudah berjanji untuk tetap membiayai hidup kami dan sebagai jaminannya, 2 warteg di Tegal secara penuh menjadi milik Ibu.
Berbekal pendapatan dari usaha warteg itulah, aku bisa kuliah sampai menjadi dokter saat ini, dan tentu saja ibuku sangat bangga karena aku sebagai putra sulungnya berhasil mandiri dan menjadi contoh buat dedek-dedekku. Lalu bagaimana dengan perselisihanku dengan Papah? Wah, sejak Ibu sudah memaklumi Papah, aku pun sudah tidak pernah mengungkitnya lagi. Hubunganku dengan Papah, bahkan dengan dua isteri muda Papah baik-baik saja. Bahkan Papah menyempatkan diri hadir dalam wisudaku dulu.
Isteri kedua Papah, yang berarti ibu tiriku, bernama Nurlela, tinggal di sebuah perumahan di daerah Bintaro. Dari hasil pernikahan dengan mamah Lela (begitu Papah menyuruhku memanggilnya), Papah dikaruniai 2 orang anak. Setelah 5 tahun menikah dengan Nurlela, Papah kemudian “buka cabang” lagi di Jogja, kali ini dengan seorang janda beranak satu, bernama Srikrti, yang kupanggil dengan mamah Srik, usianya bahkan hanya terpaut 6 tahun denganku.
Sebagai seorang lelaki, aku harus jujur untuk mengacungkan jempol buat Papah dalam memilih isteri muda. Kedua “gendukan”-nya, meskipun tidak terlalu cantik, namun punya kemiripan dalam hal body, yaitu “toge pasar”. Rupanya selera Papah mengikuti tren selera pria masa kini yang cenderung mencari “susu” yang montok dan goyangan pantat yang bahenol.
Dari dua ibu tiriku itu, tentu saja aku lebih akrab dengan mamah Srik, karena selama aku kuliah di Jogja, setiap akhir bulan aku menyempatkan bermalam di rumahnya yang juga lebih sering ditinggali Papah. Maklum mamah Srik adalah isteri termuda, meskipun berstatus janda.
Bagiku sebenarnya sangat canggung memanggil Srik dengan sebutan mamah, jauh lebih cocok kalau aku memanggilnya Mbak Srik, karena usianya memang hanya lebih tua 6 tahun dariku. Wajahnya manis selayaknya orang Jogja, dan yang membuatku betah bermalam di rumahnya adalah “toge pasar” yang menjadi keunggulannya.
Suatu saat, ketika aku masih kuliah. Seperti biasa, pada akhir pekan di minggu terakhir, aku membawa sepeda motorku dari kost menuju rumah Papah dan mamah Srik. Rupanya saat itu Papah sedang “dinas” ke Jakarta, mengunjungi mamah Nurlela, sehingga hanya ada mamah Srik dan anaknya dari suami pertamanya yang berusia 5 tahun bernama Yoga. Seperti biasa pula, aku membawakan cokelat buat dedek tiriku itu.
Saat datang, aku disambut oleh Yoga, sementara ibunya ternyata sedang mandi. Karena belum tahu kalau aku datang, mamah Srik keluar kamar mandi dengan santainya hanya berbalut handuk yang hanya “aspel” – asal tempel. Melihat kehadiranku di ruang tengah, sontak mamah Srik kaget dan salah tingkah.
“Eh… ada Mas Anto..”, serunya sedikit menjerit dan melakukan gerakan yang salah sehingga handuknya melorot hingga perut sehingga payudaranya yang sebesar pepaya tumpah keluar.
“Glek..”, aku menelan ludah dan menatap nanar pada ibu tiriku yang bertoket brutal itu. Sayang sekali pemandangan indah itu hanya berlangsung sebentar karena mamah Srik segera berlari ke kamar.
Dadaku berdegup kencang, birahiku langsung naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya aku ikut berlari mengejar mamah Srik ke kamarnya, menubruknya dan meremas buah dada pepayanya. Sayang aku belum berani melakukannya.
Aku hanya bisa “manyun” sambil bermain dengan dedek tiriku sampai akhirnya sang ibu tiri keluar kamar. Tidak tangung-tanggung, dia membungkus tubuh montoknya yang baru saja kulihat toket brutalnya dengan pakaian muslim, lengkap dengan jilbabnya. mamah Srik sehari-harinya memang mengenakan jilbab. Birahiku langsung “watering down”… layu sebelum berkembang.
Sebagai pelampiasan, pada saat mandi aku menyempatkan diri untuk masturbasi, kebetulan ada tumpukan pakaian dalam kotor milik mamah Srik di dalam ember. Awalnya aku mengambil bra warna hitam dengan tulisan ukuran 36BB yang mulai memudar. ‘Pantas besar seperti pepaya’ pikirku membayangkan dua buah dada besar milik mamah Srik yang sempat kulihat beberapa waktu lalu.
Sambil membayangkan buah dada mamah Srik, aku mengambil celana dalam hitam mamah Srik dan menciuminya. Aroma khas vagina masih tertinggal di sana, mengantarkan masturbasiku dengan sabun mandi sampai akhirnya menyemprotkan sperma di dinding kamar mandi.
Sesudah mandi aku menonton TV bersama mamah Srik dan dedek tiriku. Kami mengobrol akrab sampai sekitar jam 8 dedek tiriku minta ditemani mamahnya untuk tidur. Sebelum menemani anaknya tidur, mamah Srik masuk kamarnya untuk bertukar pakaian tidur baru kemudian masuk kamar anaknya.
Cerita Sex – Setelah anaknya tidur, mamah Srik keluar kamar dengan kostum tidurnya yang sama sekali berbeda dengan kostumnya tadi sore. Pakaian muslimnya yang tertutup berganti dengan gaun tidur warna putih yang meskipun tidak tipis tapi memperlihatkan bayangan lekuk tubuh montoknya, termasuk warna bra dan celana dalamnya yang berwarna ungu. Kontan birahiku langsung naik kembali.
“Wow… Mbak Srik cantik sekali”, pujiku tulus terhadap ibu tiriku yang memang tampak cantik dengan gaun tidur putih itu. Rambut panjangnya tergerai indah menghiasi wajah manisnya.
“Huss… kalau Bapakmu tahu, bisa dimarahin kamu, panggil Mbak segala”, serunya agak ketus namun tetap ramah.
“Bapak lagi ngelonin mamah Lela, mana mungkin dia marah”, pancingku.
“Ih, apa sih hebatnya si Lela itu? Aku belum pernah ketemu”, sergah mamah Srik. Nadanya mulai agak tinggi.
“Hmm… menurut saya sih… dan Bapak pernah cerita bahwa dia suka buah dada mamah Lela yang besar”, sadar pancinganku mengena, aku segera melanjutkannya. Padahal tentu saja aku berbohong kalau bapak pernah cerita, tapi kalau ukuran buah dada, mana kutahu dengan pasti. Yang kutahu buah dada mamah Lela memang besar.
“Oh ya?… “, benar saja, emosi mamah Srik semakin meninggi. Dadanya ditarik seakan ingin menunjukkan padaku bahwa buah dadanya juga besar.
“Bapak kalau di rumah mamah Lela suka lupa diri, pernah mereka ML di dapur, padahal waktu itu ada saya”, cerita bohongku berlanjut,”mereka asyik doggy style dan tidak sadar kalau saya melihat mereka”.
“Gila bener… pasti si Lela itu gatelan dan tidak tahu malu ya?”, sergah mamah Srik dengan emosi.
“Apanya yang gatelan Mbak?”, tanyaku.
“Ya memeknya…. “, karena emosi, mamah Srik sudah tidak peduli omongan jorok yang keluar dari mulutnya,”pasti sudah kendor tuh memeknya si Lela!”
“Kalau punya Mbak pasti masih rapet ya?”, tantangku.
“Pasti dong… saya kan baru punya anak satu”, kilahnya,”…dan saya kan sering senam kegel, Bapakmu gak akan kuat nahan sampai 5 menit, pasti KO”.
“Ya lawannya udah tua…, pasti Mbak menang KO terus”, aku terus menyerang sambil menghampiri mamah Srik sehingga kami duduk berdekatan.
“Maksudmu apa Anto?”, mamah Srik mulai mengendus hasratku. Matanya membalas tatapan birahiku pada dirinya.
“Sekali-kali Mbak harus uji coba dengan anak muda doong”, jawabku enteng sambil tersenyum.
“Welehh… makin berani kamu ya?…”, tangannya menepis tanganku yang mulai mencoba menjamah lengannya.
“Enggak berani ya Mbak?”, tantangku semakin berani,”melawan anak muda?”.
“Gendeng kamu… aku ini kan ibu tirimu”, katanya berdalih.
“Ibu tiri yang cantik dan seksi”, puji dan rayuku.
“Gombal kamu”, serunya dengan wajah agak merah pertanda rayuanku mengena.
“Mbak Srik…”, aku terus berusaha,”coba bayangkan Bapak sedang ML sama mamah Lela sekarang dan sementara Mbak Srik ‘nganggur’ di sini”.
“Terus?…”, pancingnya.
“Ya… saya bisa memberikan sentuhan dan kepuasan yang lebih buat Mbak daripada yang diberikan Bapak…”, kataku persuatif.
“Kamu sudah gila Anto”, ibu tiriku masih nyerocos, namun tangannya kini tidak menolak ketika kupegang dan kuarahkan ke penisku yang sudah mengeras.
“Mungkin saya memang gila Mbak, tapi Bapak lebih gila, mungkin dia sekarang sedang nyedot susunya mamah Lela yang besar… atau mungkin sedang jilat-jilat memeknya”, aku terus membakar mamah Srik.
“Huh… Bapakmu enggak pernah jilat memek, ngarang kamu..”, sergahnya.
“Oh ya?… tapi dia pernah cerita kalau di hobby sekali menjilat memek mamah Lela..”, aku terus berbohong sementara tanganku sudah aktif menarik rok mamah Srik ke atas sehingga kini pahanya yang montok dan putih sudah terlihat dan kubelai-belai.
“Kamu bohong…”, katanya pelan, suaranya sudah bercampur birahi.
“Ih… bener Mbak, Bapak suka cerita yang begitu pada saya sejak saya kuliah di kedokteran”, ceritaku.
“Awalnya Bapak ingin tahu apakah klitoris mamah Lela itu normal atau tidak, karena menurut Bapak, klitoris mamah Lela sebesar jari telunjuk”. Tanganku semakin jauh menjamah, sampai di selangkangannya yang ditutup celana dalam ungu. mamah Srik sedikitpun tidak memberi penolakan, bahkan matanya semakin sayu.
“Stop Anto, jangan ceritakan lagi si Lela sialan itu…,” pintanya,”Kalau tentang aku, Bapakmu cerita apa?”
“Eh… maaf ya Mbak… kata Bapak, memek Mbak agak becek…”, kataku bohong,”Pernah Bapak bertanya pada saya apakah perlu dibawa ke dokter”.
“Sialan Bapakmu itu… waktu itu kan cuma keputihan biasa”, sergah mamah Srik. Bagian bahwa gaun tidur putihnya sudah tersingkap semua, memperlihatkan pahanya yang montok dan putih serta gundukan selangkangannya yang tertutup kain segitiga ungu. Sungguh pemandangan indah, terlebih beberapa helai pubis (jembut) yang menyeruak di pinggiran celana dalamnya.
“Hmm… coba saya cek ya Mbak…”, kataku sembari menurunkan wajah ke selangkangannya.
“Crup…”, kukecup mesra celana dalam ungu tepat di tengah gundukannya yang sudah tampak sedikit basah. Tersibak aroma khas vagina mamah Srik yang semakin membakar birahiku.
Dengan sedikit tergesa aku menyibak pinggiran celana dalam ungu itu sehingga terlihatlah bibir surgawi mamah Srik yang sudah basah… dikelilingi oleh pubis yang tumbuh agak liar.
“slrupp…. slrupp..”, tanpa menunggu lama aku sudah menjulurkan lidahku pada klitoris mamah Srik dan menjilatnya penuh nafsu.
mamah Srik menggelinjang dan meremas kepalaku,”Kamu…kamu bandel banget Anto….okh… okh…”.
“Kenapa saya bandel Mbak… slruppp…”, tanyaku disela serangan oralku pada vagina mamah Srik.
“Okh…kamu… kamu menjilat memek ibu tirimu…Okhhh….edannn… kamu apakan itilku Anto…??”, teriaknya ketika aku mengulum dan menyedot klitorisnya.
Kini 100% aku sudah menguasai mamah Srik. Wanita itu sudah pasrah padaku, bahkan dia membantuku melucuti celana dalamnya sehingga aku semakin mudah melakukan oral seks.
Sambil terus menjilat, aku memasukkan jari telunjukku ke liang vaginanya yang sudah terbuka dan basah.
“Oooohh…. edannn…. enak Anto…”, jeritnya sambil menggelinjang, menikmati jariku yang mulai keluar masuk liang vaginanya.
Bahasa tubuh mamah Srik semakin menggila tatkala jari tengahku ikut ‘nimbrung’ masuk liang kenikmatannya bersama jari telunjuk. Maka tak sampai 5 menit, aku berhasil membuat ibu tiriku berteriak melepas orgasmenya.
“Okh….. edannn….aku puassss….okh…..”, tubuh mamah Srik melejat-lejat seirama pijatan dinding vaginanya pada dua jariku yang berada di dalamnya.
Setelah selesai menggapai orgasmenya, bahasa tubuh mamah Srik memberi sinyal padaku untuk dipeluk. Akupun memeluk dan mencium bibirnya dengan mesra. Dia membalas ciumanku dengan penuh semangat.
“Enak kan Mbak?”, tanyaku basa-basi.
“He’eh…”, dia mengangguk dan terus menciumiku.
“Tapi saya belum selesai periksanya lho Mbak…,” kataku manja.
“He3x… kamu benar-benar calon dokter yang bandel Anto…,” dia terkekeh senang,”Kamu mau periksa apa lagi heh?”
“Periksa yang ini Mbak…”, kataku seraya meremas buah pepaya yang masih terbungkus gaun tidur dan bra.
“Ohh… iya tuh… sering nyeri Dok…”, candanya,”minta diremas-remas… he3x…”.
Sejenak kemudian mamah Srik sudah melucuti gaun tidurnya dan mempersilahkanku untuk membuka bra ungunya yang tampak tak sanggup menahan besar buah dadanya.

[​IMG]

“Hmmm… slrupp… “, dengan penuh nafsu aku segera menciumi buah dada besar itu dan mengulum putingnya yang juga besar. Warna putingnya sudah gelap menghiasi buah dadanya yang masih lumayan kencang. ‘Pantas Bapak ketagihan’ pikirku sambil terus menikmati buah dada impianku itu.
“Anto….”, panggil mamah Srik mesra,”Mana kontolmu?… ayo kasih lihat ibu tirimu ini, hi3x…”.
Aku segera menurut dan menanggalkan celana panjang dan sekaligus celana dalamku, memperlihatkan batang penisku yang dari tadi sudah mengeras dan mengacung ke atas.
“woww… lebih besar punya kamu Anto… daripada punya Bapakmu”, puji mamah Srik seraya menggenggam penisku. Sejenak kemudian ibu tiriku sudah mengemut penisku penuh nafsu.
“Weleh…. udah kedut-kedut kontolnya… minta memek ya?”candanya,” Sini… masuk memek mamah…”
mamah Srik mengangkang, membuka pahanya lebar-lebar di sofa tengah, membuka jalan penisku memasuki liang surgawinya yang sudah becek. Setelah penisku melakukan penetrasi, kedua kakinya dirapatkan dan diangkat sehingga liang vaginanya terasa sempit, membuat penisku semakin ‘betah’ keluar masuk.
Seperti promosinya di awal, mamah Srik mengerahkan kemampuannya melakukan kontraksi dinding vagina (kegel) sehingga penisku terasa terjepit dan terhisap, namun seperti sudah kuduga, aku bukan tipe yang mudah dikalahkan. Aku bahkan balik menyerang dengan mengusap dan memijit klitorisnya sambil terus memompa vaginanya.
“Okh… kamu sudah ahli ya Anto?…. kamu sering ngentot ya…?”, mamah Srik mulai mengelinjang-gelinjang lagi, menikmati permainan penis dan pijatan pada klitorisnya. Semakin lama aku rasakan dinding-dinding vaginanya semakin mengeras pertanda dia sudah dengan dekat orgasme keduanya. Aku semakin mempercepat kocokan penisku pada vaginanya, berupaya meraih orgasme bersamaan.
“Mbak… saya semprot di dalam ya?..” tanyaku basa-basi.
“Semprot Anto…okh… semprot aja yang banyak…okh….” mamah Srik terus mendesah-desah, wajahnya semakin mesum. Akhirnya dia kembali berteriak.
“Okhhh….. ayo…. okh…. semprot Anto… semprot memek mamah….”, jeritan jorok, wajah mesumnya dan sedotan vaginanya membuatku juga tidak tahan lagi.
“Yesss…..yess….”, akupun menjerit kecil menikmati orgasmeku dengan semprotan mani yang menurutku cukup banyak ke dalam rahim mamah Srik, ibu tiriku.
Orgasme yang spektakuler itu berlangsung hampir menit dan disudahi lagi dengan pelukan dan ciuman mesra.
“Terima kasih Anto…,” katanya mesra,”Enak banget, hi3x….”
“Sama-sama Mbak, nanti saya kasih obat anti hamil…”, jawabku sambil melihat lelehan maniku di vaginanya.
“Hi3x… enggak apa lagi… tapi peju kami memang banyak banget nihhh…hi3x…” mamah Srik terkekeh girang melihat lelehan mani putihku di vaginanya.
“Kapan-kapan pakai kondom ya…. mahasiswa kedokteran kok enggak siap kondom, hi3x….” candanya.
“Yaa… saya kan alim Mbak… he3x…”
“Ha3x…. bohong banget, kamu jago gitu… pasti udah sering ngentot ya?…”, tanyanya penuh keingintahuan.
“Pernah sih sekali dua kali… waktu main di Jakarta…” kataku jujur sambil mengingat PSK di panti pijat yang pernah kudatangi di Jakarta.
“Jakarta?… heeee…. jangan2x… kamu…. main sama Lela sialan itu, iya???” sorot matanya berubah, agak emosi,”pantes kamu cerita buah dada Lela besar, klitorisnya juga besar… jangan2x kamu sudah main sama Lela juga ya?….”
“Enggak Mbak…. bukan sama mamah Lela… sumpah!” seruku berkilah.
“Awas kamu kalau main sama Lela…” serunya dengan nada cemburu. Wajahnya yang mesum tampak manja.
“Saya janji tidak akan main sama mamah Lela kalau Mbak rutin kasih jatah saya…he3x….”, pintaku manja.
mamah Srik memeluk dan menciumku mesra,”Baik… kalau Bapak enggak ada, aku SMS aku ya….”
“Siip… saya bawa kondom deh…he3x….” kataku girang.
Kami bermesraan sampai akhirnya “on” kembali dan melanjutkan satu ronde pertempuran sebelum pergi tidur. Itu adalah pengalaman pertamaku dengan ibu tiriku, dan tentu saja bukan yang terakhir. Setiap ada waktu, mamah Srik dengan semangat mengirim SMS dan aku segera datang memenuhi hasrat binal ibu tiriku. Bahkan saking ‘ngebetnya’, pernah mamah Srik mengajak aku bertemu di luar rumah karena ada Bapak di rumah. Bagaimana kisahnya? Nantikan edisi berikutnya. Petualanganku juga tak berhenti pada mamah Srik, karena aku masih punya satu ibu tiri di Jakarta, mamah Lela, yang juga tak kalah montok dengan mamah Srik.

Baik sampai disini saja untuk cerita sex dengan mama tiri Srik akan segera admin upload untuk Cerita seks dengan mama tiri Minah, jangan lupa untuk di share keteman-teman dan rekan pecinta cerita ngentot dengan ibu tiri.

Leave a Reply